Rabu, 05 April 2017

Pencarian Korban Longsor Terkendala Medan Berat - ID Nekat

PULUNG - Pencarian korban longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, belum menunjukkan kemajuan. Sulitnya medan bencana karena tebalnya tanah longsor yang melanda area permukiman menjadi kendala pencarian korban.


“Tebal tanah longsor mencapai 20 meter, lebar 200 meter, dan panjang longsoran dari mahkota longsor hingga titik terakhir mencapai dua kilometer,” kata Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (4/4).

Ia menambahkan, kendala cuaca juga menjadi persoalan tersendiri dalam melakukan pencarian korban yang hingga saat ini diperkirakan masih tersisa sebanyak 25 orang. Sejauh ini, kata dia, baru tiga korban dari total 28 korban hilang akibat bencana tersebut. Para korban yang belum ditemukan itu diperkirakan terseret dan tertimbun arus longsor.

Sulitnya pencarian korban tersebut, lanjut dia, juga karena lokasi bencana sering dilanda hujan sehingga proses pencarian korban harus dihentikan saat hujan turun. Waktu pencarian pun hanya bisa dilakukan saat hari terang.

Saat ini, kata Sutopo, alat-alat berat sudah didatangkan guna mempermudah proses pencarian korban. Kendati demikian, beratnya medan membuat proses penemuan tergolong lambat. Meski begitu, tim penyelamat tidak menyerah dalam proses pencarian korban.

Sutopo mengakui bahwa bencana di Ponorogo cenderung memiliki tingkat kesulitan yang kompleks. Maka dari itu, proses pencarian korban tidak dapat dilakukan secepat bencana longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang memiliki tebal tanah longsoran lebih tipis.

Terkait dengan sulitnya mencari korban hilang, kata Sutopo, kemungkinan masa tanggap darurat longsor Ponorogo diperpanjang. Masa tanggap darurat longsor Ponorogo sendiri ditetapkan 2–15 April 2017.

Proses mitigasi bencana sendiri, tambah dia, melibatkan 1.640 personel, antara lain TNI 200, Polri 200, Basarnas 45, BPBD 100, Tagana 100, Pemkab dan Tim Kesehatan 600, relawan 350, dan Perhutani 45 orang.

Hingga saat ini, kata Sutopo, bantuan untuk korban longsor terus berdatangan dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi mencukupi.

Kepala Desa Wagir Kidul, Siti Aminah, dikonfirmasi di Posko Tagana, Desa Wagir Kidul, mengatakan ada empat desa mengalami kesulitan air bersih karena kebergantungan suplai air dari sumber yang ada persis di titik nol bencana tanah longsor.

Tiga desa lain yang selama ini bergantung pada suplai air bersih di Desa Banaran Kecamatan Pulung tersebut masing-masing adalah Desa Singgahan, Bedrug, dan Tegalrejo.

Warga saat ini hanya mengandalkan air dari hasil penampungan air hujan yang keruh untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus) dan sebagian untuk kebutuhan konsumsi.

Faktor Tanaman

Secara terpisah, ahli geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, menyampaikan faktor tanaman ikut memengaruhi tanah longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo.

“Tanaman yang ditanam sangat berpengaruh, dan di lokasi ini, saya melihat kurang ada tanaman yang akarnya mencengkeram,” ujarnya.

Ia mengatakan tanaman di sekitar lokasi merupakan tanaman budi daya yang kurang memiliki akar kuat sehingga tidak bisa masuk ke dalam tanah. “Bisa dilihat di tebing yang longsor, nyaris tak ada akar kuat. Meski ada tanaman jahe dan ketela, tapi di sekitarnya harus ada tanaman dengan akar kuat,” ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, tebing yang kelerengannya mencapai 30 derajat juga sangat berpengaruh dan rawan untuk longsor.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengatakan ke depan, Pemprov Jatim meminta bantuan Perhutani terkait apa tanaman yang sebanding dengan jahe keuntungannya, tapi punya akar yang kuat. cit/SB/Ant/E-3

Sumber : koran-jakarta.com

Jika ada pertanyaan maupun kritikan silahkan tulis di komentar, like dan share kalian sangat kami tunggu caranya tingal klik tombol share yang sudah kami sediakan di bawah ini. berikan informasi yang bermanfaat kepada semua orang. ID NEKAT TEAM

Disqus Comments