Rabu, 05 April 2017

Terjadi Retakan Baru di Lokasi Bencana Longsor di Ponorogo - ID Nekat

Ponorogo - Hasil kajian geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, menyebutkan, masih ada ratusan jiwa warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, sekarang ini masih tinggal di lahan berbahaya di sekitar lokasi titik zona A. Di zona yang ada di tingkat paling atas dari perbukitan tersebut sewaktu-waktu bisa terjadi gerakan longsor susulan, karena struktur lapisan tanahnya merupakan lapisan rawan longsor.


“Kami beserta tim sudah berkeliling melakukan penelitian dan di zona A seluruhnya berbahaya. Sekarang ini sudah muncul retakan baru yang sewaktu-waktu menjadi longsor susulan,” ujar Lilik, tim peneliti dari PVMBG Bandung itu, Selasa (4/4) sore. Ia berulang kali mengingatkan bahwa menempati zona A sangat berbahaya. Sewaktu-waktu muncul gerakan lagi. Ia tidak habis pikir dengan kenekatan warga untuk tinggal di sekitar lokasi zona A, karena hal itu sama saja dengan menyerahkan nyawa.

“Ini karena potensi longsor susulan masih terus mengancam. Tidak ada zona aman untuk ditinggali di sini. Tim kami sudah keliling, mulai zona A, B dan C tidak ada yang aman. Semuanya berbahaya,” tandas dia. Lilik mengaku sudah melaporkan dan berkoordonasi dengan pihak terkait dan hanya bisa menyarankan warga untuk segera mengamankan diri, menjahui zona longsoran.

“Di zona A sudah muncul retakan baru,” tambahnya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kapolres Ponorogo, AKBP Suryo Sudarmadi, di Posko Induk mengatakan bahwa evakuasi korban longsor atas 32 unit rumah dan sebanyak 25 jiwa warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, belum juga selesai. Namun Selasa siang sudah muncul retakan baru di titik zona A lokasi longsor. “Kalau dari laporan tim PVMBG ada dua titik kembali muncul suara retakan bersebelahan dengan lokasi titik zona A,” ujarnya.

Demikian pula dengan dikerahkannya lebih dari 1.600 personel gabungan Tim SAR (Search and Rescue), belum membuahkan hasil karena terganggu kondisi cuaca yang buruk, karena rata-rata mulai pukul 13.00 WIB cuaca di lokasi bencana turun hujan lebat. “Kita akan kerahkan 10 unit ekskavator untuk melakukan pencarian jasad para korban, Rabu (5/4) hari ini” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budianto, Rabu tadi pagi.

Saksi Mata
Berbagai upaya penemuan korban longsor di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo dilakukan tim gabungan. Salah satunya mendatangkan saksi mata langsung ke lokasi. Hal itu dilakukan atas saksi mata korban selamat ke lokasi setelah upaya pencarian dengan alat berat belum membuahkan hasil. Masih ditemukan tiga dari sekitar 28 korban warga yang dilaporkan hilang tertimbun longsoran.

“Kami baru mendatangkan saksi mata yang oleh tim dokter sudah dinyatakan tidak mengalami traumatik lagi. Ini untuk mempercepat pencarian korban yang masih puluhan jiwa,” ujar Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Sumani, Selasa malam. Upaya pencarian para korban diakuinya cukup sulit karena endapan material longsoran mencapai ketinggian 30-50 meter. Lebih dari itu, cuaca hujan ikut mengancam lokasi longsor atas terjadinya longsoran susulan.

Sementara itu Koordinator Evakuasi Bencana Longsor di Titik C, Yoni Fahriza, Rabu (5/4) tadi pagi menambahkan, di titik A sudah diberi tanda bendera yang berdasarkan saksi mata merupakan onggokan bangunan rumah, juga pekarangan. Ada pula yang diberi tanda khusus yang diduga sebagai lokasi sekitar 12 orang warga yang sedang memanen jahe. “Pada titik tertentu itu kita beri tanda bendera khusus yang diduga menjadi tempat korban penduduk yang sedang panenan jahe berada,” ujar Yoni Fahriza sambil terus berkoordinasi dengan tim geologi dari PVMBG.

Relokasi
Sementara itu wacana relokasi dengan bertransmigrasi sebagaimana diusulkan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, langsung ditolak 32 kepala keluarga (KK) terdampak. Warga menolak karena mereka sebenarnya sudah memiliki lahan sendiri untuk kemudian ditukargulingkan dengan lahan milik desa yang lokasinya jauh lebih aman dari ancaman bencana tanah longsor.

“Saya sudah melamporkan ke Gubenur Jatim Soekarwo, bahwa warga menolak transmigrasi dan minta relokasi tetap di wilayah Desa Banaran. Makanya saya sudah membatalkan wacana itu dan akan menuruti keinginanan warga,” ujar Bupati Ipong Muchlissoni, yang dihubungi tadi pagi. Pada bagian lain Ipong mengaku lebih memilih mendengarkan keinginan warga karena 32 KK yang sudah ditemuinya.

Memang, kata Bupati, banyak di antara warga terdampak itu memiliki lahan atau tegalan sendiri. Kita dari Pemkab Ponorogo dan Pemprov Jatim tinggal membangun rumah sehat layak huni bagi mereka, tandas Ipong.

Sumber : beritasatu.com

Jika ada pertanyaan maupun kritikan silahkan tulis di komentar, like dan share kalian sangat kami tunggu caranya tingal klik tombol share yang sudah kami sediakan di bawah ini. berikan informasi yang bermanfaat kepada semua orang. ID NEKAT TEAM

Disqus Comments